Peletakan Batu Pertama Pendirian Kantor PB Al Washliyah

TANGIS haru dan bahagia menghiasai acara peletakan batu pertama pendirian Kantor PB Al Washliyah pada tanggal 30 Nopember 2013 di pertapakan tanah milik Al Washliyah yang belum lama dimiliki oleh Al Washliyah, di lokasi strategis, Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 41 Rawasari, Jakarta Pusat.

Peletakan batu pertama dimulai dari tokoh senior Al Washliyah Drs. H. Anas Tanjung yang datang dari Medan, disusul mewakili ketua PB Al Washliyah Drs. H. Lukman Hakim Hasibuan, Drs. H. Aris Banaji yang ikut mencari lokasi pertapakannya, diikuti sederetan tokoh lainnya termasuk ketua umum PB Al Washliyah.

Peletakan batu pertama.

Peletakan batu pertama

Hampir semua yang hadir Ikut larut dalam suasana haru dan gembira dengan mata berkaca-kaca saat bersama-sama meletakkan batu pertama pendirian kantor PB Al Washliyah. Demikian kata Ketua Umum PB AL Washliyah DR. H.Yusnar Yusuf Rangkuti pada kesempatan silaturahim dalam komunikasi percakapan jarak jauh saya dalam rangka mengucapkan selamat HUT ke-83 Al Washliyah pada tahun 2013.

Mengapa demikian?, Cita-cita berdirinya kantor PB Al Washliyah itu memiliki sejarah panjang yang bermacam-macam jalan ceritanya. Cita-cita baru terujud setelah 28 tahun Sekretariat PB. Al Washliyah pindah dari Medan ibukota Propinsi Sumatera Utara pada April, tahun 1986 ke Jakarta, IbuKota Indonesia.

Berbagai usaha sudah dilakukan oleh para aktifis pencinta dan pendukung Al Washliyah, beberapa kali panitia dibentuk, tapi semua tidak membuahkan hasil yang nyata. Baru setelah Dilaksanakannya muktamar Al Washliyah ke 20 tahun 2010 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta tahun 2010, dengan terpilihnya Alm DR. H.Muslim Nasution sebagai ketua umum yang mendapat dukungan luas oleh peserta Muktamar yang berlangsung sejuk dan damai.

Dalam janjinya dengan PW Al Washliyah DKI sebelum Alm Muslim Nasution diusung sebagai calon ketua umum, beliau bertekad menjadikan tugas utamanya sebagai ketua umum jika terpilih akan mendirikan gedung kantor PB Al Washliyah yang sudah menjadi cita-cita bersama semua warga Al Washliyah.

Sejak terpilihnya jadi ketua, alm Muslim Nasution fokus mulai melakukan kerja keras untuk mendirikan gedung PB. Al Washliyah dimulai dengan mencari tanah pertapakan diberbagai lokasi di DKI Jakarta didampingi oleh Aris Banadji. Memang beliau memimpin organisasi Al Washliyah tidak sampai pada akhir jabatannya, namun cita-cita utamanya mendirikan kantor PB. Al Washliyah sebelum beliau menghembuskan nafas yang terakhir telah berhasil menjadi kenyataan dengan didapatkannya tanah pertapakan untuk kantor tersebut.

Untuk mematrikan momori/kenangan sejarah untuk Almarhum Muslim Nasution, jika tidak ada pertimbangan lain, kiranya dapat dipertimbangkan untuk memberi nama gedung kantor Pengurus Besar Al Washliyah dengan nama Gedung DR.Muslim Nasution.
Jasa Almarhum termasuk orang-orang yang berjuang dan ikut dalam mengusahakan dan mendanai pendirian gedung PB. Al Washliyah ini beserta orang orang yang hadir dalam acara bersejarah peletakan batu pertama ini akan dikenang selamanya dan patut dicatat dalam perjalanan sejarah seratus tahun Al Washliyah.

Mari kita doakan Almarhum dengan membacakan Al Fatiha, semoga Amal ikhlasnya mencari sampai mendapatkan tanah pertapakan gedung Al Washliyah yang akan didirikan ini di lokasi yang cukup strategis, mendapat ridho dari Allah SWT. Al Fatiha.

Lama warga Al Washliyah menanti kebangkitan Al Washliyah dengan semangat baru dan dengan kualitas SDM yang siap tampil di depan publik. Ulang tahun ke 83 tanggal 30 Nopember 2013 kiranya dapat dijadikan momentum untuk menandai kebangkitan Al Washliyah menjelang usianya mencapai seratus tahun dengan diletakkannya batu pertama pendirian gedung Kantor Pusat Pengurus Besar Al Washliyah.

Acara peletakan batu pertama ini diawali sehari sebelumnya dengan acara tazkirah memperingati HUT ke-83 Al Washliyah di tanah pertapakan yang akan didirikan kantor PB. Al Washiyah. Menurut Ketua Umum PB Al Washliyah Dr. Yusnar Yusuf Rangkuti, acara dipadati oleh pengunjung di luar dugaan sampai panitia memasang tenda. Acara dihadiri sekitar 350 orang undangan terdiri dari keluarga besar Al Washliyah.

Undangan datang dari berbagai Propinsi seperti dari Aceh, Sumut, Keppri, Banten dan Jawa Barat, selebihnya sekitar 40% dari Propinsi DKI. Subhanallah, mereka datang dari jauh maupun dekat pada umumnya dengan ongkos yang diusahakan sendiri. Ini menunjukkan betapa besar rasa cinta mereka kepada Al Washliyah.

Saya juga ikut bersyukur, walaupun berada di Negara yang jauh dari Indonesia, namun dapat berkesempatan hadir pada pertemuan resmi yang terakhir antara pengurus PB Al Washliyah dengan Konsultan pembangunan gedung PB Al Washliyah di Kantor PB Al Washliyah pada awal Nopember 2013 untuk penentuan persetujuan bentuk gedung yang akan dibangun.

Gedung yang direncananya akan dibangun empat lantai tersebut telah memiliki dana awal untuk pembangunannya yang berasal dari berbagai sumber termasuk pribadi. Dari Perguruan Tinggi Al Washliyah telah berkomitmen akan menyumbang beberapa miliar rupiah untuk membangun gedung yang memiliki tanah seluas beberapa meter tersebut.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum PB. Al Washliyah, dalam menjawab pernyataan beberapa orang tokoh Al Washliyah yang masih pesimis mempertanyakan mengapa Al Washliyah cuma begini-begini saja, beliau mengatakan antara lain bahwa; “kita jangan jumud, jangan pesimis, kita harus selalu optimis, setelah berdiri gedung Al Washliyah ini, kita akan bergerak terus mendirikan rumah sakit dan Perguruan Tinggi Al Washiyah di Ibukota Jakarta, Insya Allah”, katanya meyakinkan.

Menurut Ketua Umum PB. Al Washliyah, PW Al Washliyah Jawa Barat saat ini telah mendapat dukungan Pemprov Jawa Barat untuk aktifitas organisasi, tentu ini perlu disusul oleh Pengurus PW Al Washliyah di propinsi lain yang harus berjuang untuk mendapatkan dukungan dana dari pemda masing-masing. Jika dukungan dana dasar ini diperoleh ditambah dari sumber dana lainnya, maka Al Washliyah di seluruh propinsi di Indonesia akan dapat menghidupkan aktifitasnya dengan lebih baik.

Dirgahayu Al Washliyah,

Wassalam.
Penulis. Abdul Mun’im, SH.MH.

Pendaftaran Mahasiswa Baru TA 2013

pmb_2013Pendaftaran Mahasiswa Baru UNIVA Labuhanbatu

Daftar Disini

Kontak : 0823 69 888200

Mendirikan Da`i Centre Al Washliyah

TULISAN ini dibuat untuk menyongsong acara silaturahim Da’i Al Washliyah yang akan diadakan dalam waktu dekat, sekedar memberikan sumbang saran secara terbuka agar dapat diketahui secara umum oleh warga Al Washliyah yang diharapkan dapat memberikan dukungannya.

Sudah waktunya Al Washliyah sebagai organisasi dakwah melakukan dakwah lebih professional, di antaranya memiliki “Da’i Centre” di seluruh Indonesia, minimal di setiap daerah tingkat dua, kabupaten atau kotamadya,  yang aktif Al Washliyahnya.

Da’i Centre itu suatu kebutuhan yang mendesak dalam suasana dakwah saat ini, sangat diperlukan sebagai markas yang memiliki alamat tetap dan nomor telepon atau internet yang dapat dihubungi setiap saat, tempat pertemuan dan berkumpulnya Da’i Al Washliyah, sekaligus tempat masyarakat untuk mencari da’i yang mereka perlukan dalam mengisi acara-acara keagamaan.

Pendirian Da’i Centre ini tentunya memerlukan dukungan dana dari berbagai pihak, baik dari Al Washliyah dan organ-organnya maupun dari pemerintah setempat.  Jika tahap pertama belum dapat membangun sendiri, untuk sementara dalam program jangka pendek dapat menyewa satu tempat yang ukurannya sedang atau bersatu dengan kantor organisasi Al Washliyah di daerah masing-masing. Dengan demikian diharapkan kegiatan Dakwah Al Washliyah akan dapat ditangani lebih serius dan lebih professional.

KEBUTUHAN DA’I

Kalangan da’i, memerlukan sekali tempat berkumpul, untuk membuat suasana gembira dan memiliki basis kekuatan para Da’i untuk menyebar syiar Islam. Tempat itu dapat digunakan sebagai pusat beroperasinya kegiatan da’wah Al Washliyah dan tempat berdiskusi tentang kegiatan da’wah yang dilakukan sehari-hari waktu demi waktu.

Da’i perlu memiliki suatu tempat untuk mengatur strategi, administrasi dan manajemen da’wah serta membangun SDM para Da’i. Tempat itu sangat berguna untuk  mendiskusikan tentang apa saja materi ceramah/khutbah yang perlu disampaikan sesuai dengan keharusan dan kebutuhan serta momentum yang terjadi di masyarakat. Tempat untuk  mendiskusikan  metode apa yang baik untuk digunakan dan bagaimana hasil pemantauan tentang suasana umat Islam di lapangan sebagai reaksi atau hasil dari da’wah yang sudah disampaikan.

Di Da’i Centre itu  dapat dibahas tentang daerah dakwah mana yang sudah terjangkau oleh dakwah dan daerah mana yang belum. Dimana kekuatan dan kelemahan masyarakat dalam melaksanakan dakwah Islam. Di tempat itu juga dapat dibahas tentang kesejahteraan kehidupan para Da’i.

KEBUTUHAN MASYARAKAT

Sering kali didapati masyarakat kesulitan untuk mencari Da’i,  terutama pada waktu-waktu tertentu seperti waktu Solat Jumat, untuk mendapatkan khotib yang diperlukan terus menerus setiap seminggu sekali dan kebutuhan  untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun serta untuk mengisi pengajian dan peringatan hari-hari besar Islam.

Kebutuhan akan Da’i selain Da’i utama juga perlu Da’i cadangan. Jika sewaktu-waktu Da’i utamanya tiba-tiba berhalangan datang pada waktunya sebab sakit, kecelakaan, macet total, dan masalah-masalah darurat lainnya, maka Da’i penggantinya pada waktunya harus sudah ada. Hal ini perlu  untuk menghilangkan rasa cemas para pengurus masjid atau panitia. Jika acara sudah siap-siap untuk dilaksanakan dan jamaah sudah berkumpul, tapi pembicara atau khotib tidak ada, maka hal ini sangat berbahaya terhadap pengurus atau panitia karena jamaah bisa bubar jika tidak satupun diantara jamaah yang bisa tampil menggantikan.

Pada waktu-waktu tertentu masyarakat selalu bingung jika memerlukan Da’i kemana mencarinya?. Bagi yang sudah rutin mengundang Da’i biasanya mereka sudah punya Da’i langganan. Jika ada Da’i Center Al Washliyah ada seperti yang sudah dimiliki oleh beberapa kelompok Da’i lainnya dan tempat itu dikenal secara umum oleh masyarakat, maka  hal itu akan dapat membantu memudahkan umat Islam di tempat itu  untuk dapat memenuhi kebutuhannya disaat-saat mereka memerlukan Da’i.

PUSAT KEGIATAN MENCETAK KADER DA’I

Da’i Centre diperlukan untuk mencetak para Da’i muda sebagai generasi penerus untuk menambah jumlah Da’i maupun yang akan menggantikan posisi Da’i senior agar jumlahnya menjadi lebih banyak. Tempat itu juga dapat dipakai untuk membangun kualitas SDM para Da’i yang ada agar dapat menyampaikan da’wah dengan bijaksana dan dengan cara yang lebih simpati serta berkualitas.

Da’i Centre dapat  berfungsi untuk tempat mengenalkan kepada para Da’i alat alat Informasi Teknologi yang dapat membantu para Da’i lebih memudahkan dalam berda’wah, maka Center ini dapat menyiapkan sarana komunikasi dan media sosial sebagai alat da’wah masa kini yang diantaranya mungkin belum  dimiliki oleh pada Da’i secara merata. Da’i Center juga dapat digunakan untuk tempat latihan para Da’i jika akan tampil didepan layar televisi atau untuk wawancara.

PERPUSTAKAAN UNTUK REFERENSI
Da’i Centre dapat digunakan sebagai perpustakaan tempat menyimpan buku-buku sebagai rujukan ceramah para Da’i dan untuk membantu memberikan bahan referensi bagi para Da’i yang rajin menulis dsb.  Masih banyak lagi pemanfaatan tempat ini, jika dapat disediakan bagi pada Da’i Al Washliyah yang membuat mereka akan semakin baik dan maju. Dengan adanya Da’i Centre, kegiatan-kegiatan da’wah Islam diharapkan akan semakin bervariasi penampilannya dan semakin berkembang.

H. Abdul Mun’im Ritonga, SH.MH
Penulis Adalah seorang anggota Da’i Al Washliyah DKI Jakarta - See more at: http://kabarwashliyah.com/2013/04/28/mendirikan-dai-centre-al-washliyah

ALJAM’IYATUL WASHLIYAH DAN PENDIDIKAN

Sejak berdirinya oragnisasi Al Jam’iayatul Washliyah di Kabupaten Labuhanbatu mulai tahun 1950 dengan amal usahanya : da’wah, amal sosial dan pendidikan. Secara nyata Al Washliyah telah mendirikan madrasah mulai dari Raudhatul Athfal, Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah dan juga sekolah umum mulai dari SD, SMP, dan SMK yang tersebar di seluruh desa yang ada di Kabupaten Labuhanbatu. Usaha tersebut dilakukan oleh para pejuang Al Washliyah Labuhanbatu, diantaranya ada yang telah berpulang ke Rahmatullah antara lain : Buya H. Muahmmad Damsyeh (wafat 6 April 2005), Buya H. ABD. Rahim Ja’far (wafat 27 Oktober 1994), Buya Hamzah Harahap (wafat Pebruari 2002), Buya H. MHD. Hasan Basri (wafat 19 Mei 2002), Buya H. Bahroem Dalimunthe (wafat 7 Juni 2008).

Pada tahun 1961 Al Jam’iyatul Washliyah Labuhanbatu berusaha merintis perguruan tinggi di Rantauprapat dengan mendirikan Fakultas Syariah kerjasama dengan Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan dan berjalan hanya beberapa tahun saja. Dan pada tahun 1985 mencoba kerjasama dengan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) namun bertahan hanya satu tahun.

Menyadari keberadaan yang kurang menguntungkan itu apalagi ditinjau dari sudut pandang peningkatan sumberdaya manusia yang berkualitas dan pembinaan moral serta ilmu pengetahuan, maka Pimpinan Daerah Kabupaten Labuhanbatu (H. Ali Amran Zakaria, Ketua Umum) dalam rapatnya tanggal 21 Mei 1991 disepakati bersama untuk kembali melakukan tekad yang bulat mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam dengan kerjasama Fakultas Tarbiyah Universitas Al Washliyah (FT-UNIVA) medan dengan jumlah mahasiswa pertama 32 orang dan sarana perkuliahan menumpang di Perguruan Al Washliyah Jl. Siringo-ringo No: 16 Rantauprapat dengan tenaga dosen seluruhnya dari UNIVA Medan.

Tahun akademi 1992/1993 Al hamdulillah Izin Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Washliyah Rantauprapat telah diterbitkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, sejak saat itulah secara resmi berdirinya pertama kali Perguruan Tinggi Al Washliyah di Labuhanbatu. Untuk pengembangan perguruan tinggi selanjutnya STIT berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Washliyah Labuhanbatu dan pada tanggal 31 Juli 2008 berdirilah Universitas Al Washliyah (UNIVA) Labuhanbatu, sehingga jumlah Program Studi yang di asuh oleh Al Washliyah Labuhanbatu menjadi 8 Prodi, yaitu Pendidikan Agama Islam (S1), Komunikasi Penyiaran Islam (S1), Manajemen (S1), Teknik Informatika (S1), Pend. Matematika (S1), Pend. Biologi (S1), Pend. Bahasa Inggeris (S1), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S1). Prodi Pend. Agama Islam telah terakreditasi BAN-PT,  dan prodi lainnya pada tahun 2010 telah diperpanjang oleh Dirjen Pendidkkan Tinggi sampai dengan tahun 2014.

Namus disadari sarana yang ada masih terus diupayakan untuk dikembangkan namun karena keterbatasan maka penambahan fasilitas perkuliahan masih terasa lambat, oleh karena itu mohon doa akan Univa Labuhanbatu di beri kekuatan untuk mampu berbenah diri dalam upaya mensejajarkan diri dengan universitas lainnya, Amiin. (Bukhari Is).

Sejarah Ikatan Putera Puteri Al Washliyah

Sebelum bernama Ikatan Putera Puteri Al Washliyah (IPA), awalnya organisasi yang menaungi para pelajar Al Washliyah yang lahir dari rahim Kongres ke IX Al Washliyah di Medan tahun 1953, dikenal dengan nama Ikatan Pelajar Al Washliyah Putera (IPA Putera) dan Ikatan Pelajar Al Washliyah Puteri (IPA Puteri) yang mempunyai pucuk pimpinan sendiri-sendiri. IPA Putera di bawah pengawasan Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) dan IPA Puteri di bawah pengawasan Angkatan Puteri Al Washliyah.

Perubahan nama sesungguhnya tidak menjadi keinginan para kader organisasi yang hadir sebagai peserta pada Muktamar Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) Ke IX, tapi lebih pada situasi dan kondisi yang mengharuskannya. Adalah UU No. 8 tahun 1985 yang akhirnya “memaksa” Muktamar Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) tahun 1997 di Bandung harus menentukan pilihan antara melakukan pergantian nama atau membubarkan diri.

Cukup lama organisasi ini bertahan demi sebuah harapan untuk tetap kukuh dengan idealismenya, tapi ternyata semua kader harus mengikhlaskan diri untuk melakukan penyesuaian demi keberlangsungan perjuangan dan pengabdian, meskipun hal itu terasa berat.

Itulah sekilas proses pergantian nama organisasi yang menjadi catatan sejarah penting untuk diketahui oleh para kader yang masih terus melakukan pengabdian di IPA ataupun yang sudah menjadi alumni.

Memasuki usia yang ke-56 tahun pada 2009 ini, ada beberapa hal yang harus kita review dan evaluasi kembali, setidaknya ini menjadi bagian dari upaya kita untuk terus memberikan yang terbaik bagi IPA, Al Washliyah, agama, bangsa dan negara.

Kaderisasi

Adalah sebuah keharusan bagi IPA untuk terus melakukan proses kaderisasi. Tidak ada organisasi yang dapat bertahan lama, jika tidak melakukan kaderisasi. Dan IPA sebagai salah satu laboratorium kader Al Washliyah selain Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) tidak boleh berhenti melakukan hal ini. Sesungguhnya dari kaderisasilah diharapkan lahirnya para pemimpin baru dengan kapasitas, kompetensi dan loyalitas tinggi. IPA hanya akan bisa bertahan bila kader-kaderya selalu tumbuh dan berkembang.

Terkait dengan pola kaderisasi yang sudah dilakukan selama ini, saya melihat diperlukan adanya peningkatan kualitas dalam beberapa hal, terkait materi kaderisasi, kompetensi instruktur (baik akhlaq, ibadah dan pengetahuan) dan aksi tindak lanjut (pasca kaderisasi).

Pola-pola yang selama ini dianggap tidak relevan lagi dengan situasi kekinian, IPA harus berani melakukan perubahan. Hal ini bukan berarti menghilangkan substansi kaderisasi, tapi lebih pada upaya melakukan penyesuaian terhadap dinamisnya perkembangan zaman, agar sebagai organisasi IPA tidak ketinggalan zaman.

Silaturahim Dan Konsolidasi

Struktur organisasi yang sudah terbentuk dari mulai Pimpinan Pusat sampai ke tingkat Pimpinan Ranting dan Pimpinan Rayon (di sekolah/madrasah) harus terus dilakukan pembinaan, pimpinan di atasnya dituntut selalu rajin melakukan konsolidasi dan silaturahim kepada semua jajaran di bawah.

Status kepemimpinan dengan jabatan organisasi yang disandang tidak boleh melahirkan keangkuhan dan keengganan untuk melakukan “turun ke bawah” atau “turba”. Karena hakikatnya program silaturahim dan konsosolidasi inilah yang akan membuka sumbatnya komunikasi dan jalannya program.

Apa yang pernah dilakukan dan menjadi tradisi para alumni di masa lalu, yakni dengan rajin mengunjungi satu sama lain, layak untuk dipertahankan dan diteruskan. Jangan para pengurus IPA hanya mendatangi saat ada kepentingan saja.

Menjaga Independensi

Sejak bergulirnya reformasi, kita dihadapkan pada seringnya pesta politik digelar, baik itu pemilihan umum presiden dan wakil presiden, pemilihan umum legislatif, pemilihan kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) bahkan pemilihan kepala desa, yang seluruhnya dilaksanakan secara langsung.

Peristiwa politik ini disadari atau tidak menimbulkan ekses bagi organisasi baik secara langsung maupun tidak untuk terlibat dalam hal dukung mendukung calon.

Ditambah lagi dengan lahirnya begitu banyak partai politik, dan ini memberikan ruang partisipasi kader yang berkeinginan untuk mengaplikasikan ilmu berorganisasi secara lebih luas di partai politik. Dua hal diatas harus dapat dikelola dengan baik oleh IPA untuk tidak terjebak pada pelanggaran konstitusi organisasi yang menggariskan organisasi tidak berafiliasi kepada partai politik.

Sikap independen adalah pilihan terbaik untuk menjaga organisasi dari intervensi kekuatan sosial politik sekaligus memberikan kesempatan yang sama kepada segenap potensi kader untuk berkiprah dipentas politik secara adil dan tidak berat sebelah. Artinya, IPA membebaskan kadernya untuk menentukan pilihan tanpa mengusung kelembagaan sebagai alat politiknya.

Karena sesungguhnya disitulah letak kekayaan organisasi. Kita melahirkan kader yang militan untuk selanjutnya mendistribusikannya secara tidak langsung kepada pasar politik yang membutuhkannya.

Fakultas Teknik, Prodi Tek.Informatika

CIMG0031

Kelompok Studi Linux F.Teknik

Meneropong Ilmu Hisab

Ramadhan tentu kita ingat bagaimana perasaan kita yang demikian gembira karena memasuki bulan yang penuh limpahan pahala yang Allah k siapkan untuk orang-orang bertakwa. Namun di antara rasa gembira itu, terselip kegelisahan ketika melihat kaum muslimin berbeda-beda dalam menentukan awal bulan Ramadhan. Hilang kebersamaan mereka dalam menyambut bulan mulia itu. Sungguh hati ini sangat sedih. Semoga Allah SWT segera mengembalikan persatuan kaum muslimin kepada ajaran yang benar dan kebersamaan yang indah.
Hilangnya kebersamaan itu disebabkan oleh banyak faktor yang mestinya kaum muslimin segera menghilangkannya. Satu hal yang tak luput dari pengetahuan kita adalah pemberlakuan hisab atau ilmu falak dalam menentukan awal bulan hijriyyah di negeri ini baik oleh individu ataupun organisasi. Perbuatan tersebut merupakan sesuatu yang sangat lazim, bahkan seolah menjadi ganjil jika kita tidak memakainya dan hanya mencukupkan dengan cara yang sederhana yaitu ru’yah (melihat hilal).
Demikianlah tashawwur (anggapan) yang terbentuk dalam benak sekian banyak kaum muslimin. Hal inilah yang kemudian menyebabkan adanya perbedaan pendapat dalam menentukan awal bulan, termasuk sesama mereka yang memakai hisab, terlebih dengan ilmu yang lain. Perlu diingat bahwa agama ini telah sempurna dalam segala ajarannya sebagaimana Allah SWT nyatakan:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْناً

“Pada hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian dan Aku ridha buat kalian Islam sebagai agama kalian.” (Al-Maidah: 3)
Agama ini tidak membutuhkan penambahan atau pengurangan, lebih-lebih pada perkara ritual (ibadah) yang selalu berulang di masa Nabi SAW seperti shalat, puasa, dan haji. Ajaran Islam dalam hal itu telah jelas, termasuk pula dalam menentukan awal bulan hijriyyah. Allah SWT telah menetapkan bahwa hilal (bulan sabit) adalah alat untuk menentukan awal bulan Islam. Allah SWT berfirman:

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (Al-Baqarah: 189)
Demikian pula Nabi SAW bersabda:

إِذَا رَأَيْمُوْهُ فَصُوْمُوهُ وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Jika kalian melihatnya maka puasalah kalian dan jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian, tapi jika kalian tertutupi awan maka tentukanlah (menjadi 30).” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.1900 dan Muslim no. 2501)
Inilah tuntunan Islam. Tuntunan yang demikian mudah, pasti, dan membawa banyak maslahat. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW. Nabi mengatakan demikian ketika ilmu hisab dan falak telah ada dan dipakai oleh masyarakat Romawi, Persia bahkan Arab.
Namun Nabi SAW tidak mengikuti mereka. Bahkan beliau menerima sepenuhnya ketentuan Allah SWT bahwa untuk menentukan awal bulan adalah dengan ru’yatul hilal (melihat hilal). Yang sangat disayangkan, hampir-hampir ajaran Nabi ini tersisihkan dan diganti kedudukannya dengan ilmu hisab dan ilmu falak. Lebih ironis lagi, ini dilakukan oleh pihak-pihak yang dipandang sebagai ulama. Oleh karenanya kita akan melihat sejauh mana pandangan ulama Ahlus Sunnah terhadap pemberlakuan ilmu hisab.
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah t dalam Majmu’ Fatawa-nya menjelaskan masalah ini: “Saya melihat manusia di bulan puasa dan bulan lainnya, mereka ada yang mendengarkan orang tak berilmu dari kalangan ahli hisab bahwa hilal dilihat atau tidak dilihat. Sampai-sampai, di antara hakim ada yang menolak persaksian beberapa orang yang adil karena mengikuti ahli hisab yang bodoh dan berdusta bahwa hilal dilihat atau tidak dilihat.
Di antara mereka ada juga yang tidak menerima ucapan ahli hisab bintang baik lahir maupun batin. Akan tetapi dalam hatinya punya syubhat yang banyak karena mempercayainya. Sesungguhnya kami mengetahui dengan pengetahuan yang sangat dimaklumi dari ajaran Islam bahwa dalam ru’yah (melihat) hilal untuk puasa, haji, ‘iddah (masa menunggunya wanita yang dicerai atau ditinggal mati suaminya) atau yang lainnya dari hukum-hukum yang berkaitan dengan hilal, tidak boleh menggunakan berita dari ahli hisab tentang terlihat atau tidaknya hilal.
Banyak nash-nash dari Nabi n dalam masalah ini, dan kaum muslimin telah berijma’ (bersepakat) atas yang demikian. Tidak diketahui ada khilaf (perselisihan pendapat) di masa lalu dalam masalah ini dan tidak pula di masa sekarang. Kecuali sebagian ahli fiqih belakangan setelah tiga kurun pertama yang menyangka bahwa jika hilal terhalangi awan boleh bagi seorang ahli hisab untuk mengamalkan hisab pada dirinya sendiri sehingga jika hisabnya menunjukkan mungkinnya ru’yah hilal maka ia puasa, jika tidak maka tidak berpuasa.
Pendapat ini walaupun terkait dengan “jika tertutup awan” dan khusus bagi ahli hisabnya saja, tapi tetap merupakan pendapat yang syadz (ganjil), karena telah didahului oleh ijma’ yang menyelisihinya. Maka, tidak ada seorang muslimpun yang berpendapat bolehnya mengikuti hisab di saat cerah atau menggantungkan hukum yang bersifat umum secara keseluruhan padanya. Allah SWT berfirman:

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya tentang hilal-hilal, katakanlah bahwa itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.” (Al-Baqarah: 189)
Allah SWT mengabarkan bahwa hilal merupakan waktu untuk manusia dalam segala hal yang berkaitan dengan mereka. Dikhususkan penyebutan ibadah haji karena untuk membedakannya dengan ibadah yang lain. Selain itu, haji disaksikan oleh malaikat dan selainnya. Juga karena haji dilakukan di penghujung bulan dalam satu tahun.
Allah k menjadikan hilal sebagai waktu bagi manusia terkait dengan hukum-hukum yang ditetapkan syariat. Juga hukum-hukum yang ditetapkan dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh manusia. Sehingga apa saja yang waktunya tetap baik dengan syariat atau syarat maka hilal-lah patokan waktunya. Masuk di dalamnya puasa, haji, waktu ila’, ‘iddah, puasa kaffarah, puasa nadzar dan lain-lain.
Apa yang datang dari syariat merupakan perkara yang paling sempurna, paling baik, paling jelas, paling benar, dan paling jauh dari kegoncangan. Hilal adalah sesuatu yang disaksikan dan dilihat dengan mata. Dan di antara maklumat yang paling absah (meyakinkan) adalah sesuatu yang dilihat dengan mata. Oleh karenanya mereka sebut hilal karena kata itu (dari sisi bahasa) menunjukkan makna terang dan jelas. Dikatakan bahwa asal makna hilal adalah mengangkat suara. Dulu tatkala mereka melihat hilal mereka mengangkat suaranya, sehingga disebut hilal.
Artinya, waktu-waktu tersebut ditentukan dengan perkara yang jelas, terang, manusia sama-sama (bisa melihat)-nya. Tidak ada yang seperti hilal dalam masalah ini. Hilal ditetapkan dengan sesuatu yang thobi’i (alami), nampak, bersifat umum, dan dapat dilihat dengan mata sehingga tidak seorangpun sesat dari agamanya. Dengan memperhatikannya, tidak akan tersibukkan oleh masalah-masalah lain, dan tidak akan menjerumuskan pada perkara yang tidak bermanfaat. Juga tidak akan menjadi celah talbis (pengkaburan) dalam agama Allah SWT sebagaimana dilakukan ulama agama lain terhadap agama mereka. Dasar dilarangnya hisab dari naqli (syariat) dan ‘aqli (akal) sebagai berikut:
Pertama, dari ‘Abdullah Ibnu ‘Umar c dari Nabi n bahwasanya beliau bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلا َنَحْسِبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَعَقَدَ الإبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ وَالشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا يَعْنِي تَمَامَ الثَّلاَثِيْنَ

“Sesungguhya kami adalah umat yang ummi tidak menulis dan tidak menghitung bulan itu seperti ini, seperti ini dan seperti ini (beliau menggenggam ibu jari pada ketiga kalinya) dan bulan ini seperti ini, seperti ini dan seperti ini (yakni sempurna 30 hari).” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu ‘Umar)
Hadits ini merupakan berita sekaligus mengandung larangan ilmu hisab. Tidak adanya kemampuan beliau SAW dalam menulis karena beliau terhalang dari jalannya (mempelajarinya), padahal beliau mendapatkan manfaat yang sempurna dari tujuan kemampuan menulis itu. Ini merupakan keutamaan dan mukjizat besar karena Allah SWT mengajarkan ilmu kepada Rasulullah n tanpa perantara sebuah kitab. Hal ini merupakan mukjizat bagi beliau n.
Di sisi lain, seluruh para pembesar shahabat seperti empat khalifah dan yang lainnya, mayoritas mampu menulis karena butuhnya mereka terhadap hal itu. Namun mereka tidak diberi wahyu sebagaimana yang diberikan kepada Nabi SAW. Sehingga jadilah ke-ummi-an yang khusus bagi beliau sebagai sifat kesempurnaannya. Yaitu dari sisi ketidakbutuhannya kepada tulis menulis dan berhitung, karena ada yang lebih sempurna dan utama darinya.
Tapi, ke-ummi-an ini merupakan sifat negatif pada diri selain Rasulullah SAW bila dilihat dari sisi kehilangan keutamaan yang tidak bisa didapatkan kecuali dengan menulis. Maka, penulisan hari-hari pada bulan dan meng-hisab-nya termasuk dalam perkara ini (yakni, umat ini telah memiliki cara yang lebih baik daripada hisab yaitu ru’yah sehingga bila kita tidak memakai ilmu hisab, hal itu merupakan kesempurnaan karena kita memiliki yang lebih baik darinya. Sebaliknya, jika memakai hisab dan meninggalkan ru’yah justru merupakan kekurangan karena kita meninggalkan yang lebih baik dan memakai yang lebih jelek, red).
Nabi SAW menerangkan: “Kami adalah umat yang ummi, tidak menulis tulisan ini dan tidak menghisab dengan hisab ini.” Ucapan beliau tersebut menafikan (mengingkari) hisab dan penulisan yang berkaitan dengan hari-hari pada suatu bulan yang dijadikan dasar waktu hilal bersembunyi dan kapan hilal muncul.
Penafian dalam hadits ini meski dengan teks yang mutlak bersifat menafikan hal yang lebih umum, namun jika dilihat dalam konteks kalimat itu ada yang menerangkan maksudnya, maka akan diketahui apakah maksud penafian itu umum ataukah khusus. Sehingga tatkala kata “Kami tidak menulis dan tidak menghitung” disejajarkan dengan sabda beliau “bulan itu 30 hari” dan “bulan itu 29 hari,” berarti beliau menerangkan bahwa dalam perkara hilal kita tidak membutuhkan hisab atau penulisan1 di mana bulan itu kadang seperti ini dan kadang seperti itu. Pembeda antara keduanya hanya ru’yah, tidak ada pembeda lain berupa (hasil) penulisan atau hisab.
Para ahli hisab pun tidak mampu untuk memposisikan ru’yah dengan tepat secara terus menerus -hanya mendekati saja-, sehingga terkadang benar dan terkadang salah. Jadi jelas bahwa ke-ummi-an dalam hal ini merupakan sifat pujian dan kesempurnaan. Hal itu jelas dari beberapa sisi:
- Dibandingkan hisab, ru’yah hilal lebih mencukupi, lebih terang dan jelas.
- Menggunakan hisab memungkinkan timbulnya kesalahan.
- Hisab dan penulisan justru mengandung banyak kerumitan yang tiada manfaatnya karena menjauhkan dari manfaat yang diperoleh. Di mana pada hakekatnya, hisab itu bukan dimaksudkan untuk hisab itu sendiri melainkan untuk hal yang lain.
Jika hisab dan penulisan ditiadakan karena kita tidak membutuhkan hal itu, karena ada yang lebih baik, dan karena kelemahan yang ada pada penulisan dan hisab, maka hisab dan penulisan merupakan kekurangan dan aib, bahkan kejelekan dan dosa. Barangsiapa yang masuk ke dalam hisab berarti ia telah keluar dari umat yang ummi dari sisi kesempurnaan dan keutamaannya, yaitu selamat dari kerusakan dan ia masuk dalam sisi negatif yang menghantarkan kepada kerusakan dan kegoncangan. Sehingga kesempurnaan dan keutamaan yang didapat dengan ru’yah hilal tanpa hisab itu akan hilang karena menyibukkan diri dengan hisab, meski terkadang benar.
Kedua, Nabi SAW bersabda:

لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ

“Jangan kalian berpuasa sampai kalian melihatnya dan jangan kalian berbuka sampai kalian melihatnya.” (seperti terdapat dalam hadits Ibnu ‘Umar c) (Shahih, HR. Muslim no. 2505)
Nabi SAW melarang untuk berpuasa sebelum melihat hilal dan melarang berbuka sebelum melihatnya, dan ru’yah di sini artinya penglihatan dengan indera mata. Maksudnya bukan tidak seorangpun boleh berpuasa sehingga melihatnya sendiri, namun janganlah seseorang berpuasa sehingga ia melihatnya atau orang lain melihatnya.
Berbeda dengan orang yang menerapkan ilmu hisab dan yang lainnya, yang Nabi SAW tegaskan ketiadaannya dari umat ini dan larangannya. Oleh karena ini para ulama menganggap mereka itu telah memasukkan sesuatu yang bukan dari Islam ke dalam Islam sehingga para ulama menghadapi mereka dengan pengingkaran yang dipakai dalam menghadapi ahli bid’ah.

Dilarangnya Hisab dari Sisi Akal
Peneliti dari ahli hisab semuanya bersepakat tentang mustahilnya menentukan ru’yah secara tepat dengan ilmu hisab untuk kemudian dihukumi bahwa hilal pasti dilihat atau tidak dapat dilihat sama sekali dengan ketentuan yang sifatnya menyeluruh, meski mungkin bisa terjadi secara kebetulan. Oleh karenanya orang-orang yang mementingkan bidang ini dari orang-orang Romawi, India, Persia dan Arab juga yang lainnya seperti Batlimus -yang dia adalah pemuka mereka-, juga yang datang setelahnya baik sebelum Islam atau setelahnya, tidak berbicara dalam masalah ini dengan satu hurufpun. (Akan tetapi yang berbicara dalam masalah ini adalah mereka yang datang belakangan seperti Wisyyar Ad-Dailami dan semacamnya ketika melihat bahwa syariat mengaitkan hukumnya dengan hilal, mereka melihat hisab sebagai jalan yang bisa tepat dalam hal menentukan waktu ru’yah. Padahal hisab bukan jalan yang lurus dan seimbang, bahkan memiliki banyak kesalahan dan hal itu telah terbukti. Mereka banyak berselisih apakah hilal bisa dilihat ataukah tidak. Hal itu disebabkan mereka menggunakan hisab untuk mengukur sesuatu yang tidak bisa diketahui dengan hisab sehingga mereka melenceng dari jalan yang benar).” (Majmu’ Fatawa, 25/207)
Sisi yang jelas dari tidak mungkinnya keakuratan hisab dalam menentukan ru’yah, bahwa sesuatu yang paling mungkin bisa ditentukan oleh ahli hisab –jika hisabnya benar- hanyalah waktu istisrar (tersembunyinya hilal) ketika bulatan matahari dan bulan berkumpul pada jam sekian misalnya, dan ketika matahari tenggelam bulan telah berpisah dari matahari dengan jarak sekitar 10 derajat misalnya, atau kurang atau lebih.
Derajat yang dimaksud adalah satu bagian dari 360 bagian dalam falak dan mereka membaginya menjadi 12 bagian yang mereka namai Ad-Dakhil. Setiap gugusan ada 12 derajat. Inilah maksimalnya pengetahuan mereka, yaitu menentukan jarak antara matahari dan bulan pada waktu dan tempat tertentu. Inilah yang mungkin bisa dihitung tepat dengan hisab. Adapun bisa dilihat atau tidaknya hilal, maka ini adalah persoalan inderawi dan alami, bukan perkara yang dihisab dengan matematika.
Dalam hal ini, tidak berlaku satu aturan yang tidak bertambah dan tidak berkurang dalam peniadaan atau penetapannya. Bahkan jika jarak (antara bulan dan matahari) misalnya 20 derajat, maka hilal bisa dilihat selama tidak ada penghalang dan jika hanya satu derajat maka tidak dapat dilihat. Adapun jika sekitar 10 derajat maka akan berbeda tergantung perbedaan sebab-sebab ru’yah sebagai berikut:
- Berbeda karena ketajaman penglihatan.
- Berbeda karena jumlah orang yang mengamati hilal. Jika banyak akan lebih mungkin terlihat oleh sebagian mereka, karena tajamnya penglihatan atau pengalaman salah seorang dari mereka dalam mengfokuskan pandangan ke tempat terbitnya hilal.
- Berbeda karena perbedaan tempat dan ketinggian, antara tempat yang tinggi dan tempat yang rendah, dan ada penghalang atau tidak.
- Berbeda karena perbedaan waktu melihatnya.
- Berbeda karena tingkat kebersihan udara.
Jika ru’yah merupakan sebuah hukum yang terkumpul dari sebab-sebab ini, yang tidak sedikitpun masuk dalam perhitungan ahli hisab, maka bagaimana mungkin seorang ahli hisab memberi kabar dengan kabar yang menyeluruh bahwa hilal tidak mungkin dilihat oleh seorangpun karena dia pandang jaraknya cuma tujuh atau delapan atau sembilan derajat. Atau bagaimana mungkin dia kabarkan dengan berita yang pasti bahwa hilal dilihat jika sembilan derajat atau sepuluh misalnya. (Majmu’ Fatawa, 25/126-189 dengan ringkas)
Beliau (Ibnu Taimiyyah) simpulkan: “Dan orang yang berpijak pada hisab dalam (menentukan) hilal, sebagaimana ia sesat dalam syariat, iapun telah berbuat bid’ah dalam agama, dia telah salah dalam hal akal dan ilmu hisab.” (Majmu’ Fatawa, 25/207)
Inilah penjelasan Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah t yang cukup terang, menjelaskan kepada kita sejauh mana ketepatan dan hukum ilmu hisab atau falak sebagai penentu awal bulan Islam.
Ini pula yang difatwakan oleh panitia tetap untuk pembahasan ilmiah dan fatwa Saudi Arabia, ketika sampai kepada mereka sebuah pertanyaan:
Apakah boleh seorang muslim menentukan awal dan akhir puasa dengan hisab ilmu falak atau harus dengan ru’yah hilal?
Jawab:
Allah SWT tidak membebani kita dalam mengetahui awal bulan Qamariyyah dengan sesuatu yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali kelompok yang sedikit dari manusia yaitu ilmu perbintangan atau hisab falak. Dengan ketentuan ini, terdapat nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah untuk menjadikan ru’yah hilal dan menyaksikannya sebagai tanda awal puasanya muslimin di bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Demikian pula keadaannya dalam menetapkan ‘Iedul Adha dan Arafah. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Maka barangsiapa di antara kalian menyaksikan bulan hendaknya berpuasa.” (Al-Baqarah: 185)

يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal-hilal, katakanlah: ‘Itu adalah waktu-waktu bagi manusia dan bagi (ibadah) haji.’” (Al-Baqarah: 189)
Nabi n bersabda:

إِذَا رَأَيْمُوْهُ فَصُوْمُوهُ وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ

“Jika kalian melihatnya, maka puasalah kalian, dan jika kalian melihatnya maka berbukalah kalian. Tapi jika kalian tertutupi awan, maka sempurnakanlah menjadi tigapuluh.”(Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Umar c)
Nabi n menjadikan tetapnya puasa dengan melihat hilal bulan Ramadhan dan berbuka dengan melihat hilal Syawwal. Dan Nabi SAW tidak mengaitkannya itu dengan hisab bintang-bintang dan perjalanannya. Yang demikian diamalkan sejak jaman Nabi SAW, para Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, empat imam dan tiga kurun waktu yang Nabi SAW persaksikan keutamaan dan kebaikannya.
Merujuk kepada ilmu bintang dan meninggalkan ru’yah dalam menetapkan bulan-bulan Qamariyyah untuk menentukan awal ibadah, merupakan bid’ah yang tiada kebaikan padanya dan tidak ada landasannya dalam syariat. (Fatawa Ramadhan, 1/61, ditandatangani oleh Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Mani’, dan Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata: “Adapun hisab, maka tidak boleh beramal dengannya dan berpijak padanya.” (Fatawa Ramadhan, 1/62)
Asy-Syaikh Ibnu Baz t ditanya: Sebagian kaum muslimin di sebagian negeri sengaja berpuasa tanpa bersandar pada ru’yah hilal dan merasa cukup dengan kalender. Apa hukumnya?
Jawab: Sesungguhnya Nabi SAW telah memerintahkan kaum muslimin untuk “Berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihat hilal, maka jika mereka tertutup oleh awan hendaknya menyempurnakan jumlah menjadi 30.” (Muttafaqun ‘alaihi) dan Nabi n bersabda:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لاَ نَكْتُبُ وَلا َنَحْسِبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَعَقَدَ الإبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ وقال وَالشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَأَشَارَ لأَصَابِعِهِ كُلِّهَا

“Kami adalah umat yang ummi tidak menulis dan tidak menghitung bulan itu adalah demikian demikian dan demikian dan beliau menggenggam ibu jarinya pada ketiga kalinya dan mengatakan bulan itu adalah begini, begini dan begini dan mengisyaratkan dengan jari-jarinya seluruhnya.”

Beliau SAW maksudkan bahwa bulan itu mungkin 29 hari dan bisa 30 hari, dan terdapat sebuah hadits dalam Shahih Al-Bukhari dari Abu Hurairah z bahwa Nabi SAW bersabda:

صُوْمُوا لِرُأْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُأْيَتِهِ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَِّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِينَ يَوْمًا

“Puasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah karena melihatnya, maka jika kalian tertutupi awan hendaknya menyempurnakan Sya’ban menjadi 30.”
Dan Nabi n juga bersabda:

لاَ تَصُوْمُوا حَتَّى تَرَوا الْهِلاَلَ وَتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوا الْهِلاَلَ وَتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ

“Jangan kalian berpuasa sehingga melihat hilal atau sempurnakan jumlah dan jangan kalian berbuka sehingga melihat hilal atau menyempurnakan jumlah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2495)
Dan hadits-hadits tentang ini banyak jumlahnya, yang kesemuanya menunjukkan wajibnya beramal dengan ru’yah atau menyempurnakan jumlah ketika tidak ada ru’yah, sebagaimana juga menunjukkan tidak bolehnya bersandar kepada hisab dalam masalah itu. Ibnu Taimiyyah t telah menyebutkan ijma’ para ulama bahwa dalam menentukan hilal tidak boleh bersandar kepada hisab. Dan itulah yang benar, tiada keraguan padanya. Allahlah yang memberi taufiq. (Fatawa Shiyam, hal. 5-6)

Syubhat
Sebagian orang memahami sabda Nabi n:

الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرًوْنَ لَيْلَةً لاَ تَصُوْمُوهُ حَتَّى تَرَوْهُ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ إِلاَّ أَنْ يُغَمَّ عَلَيْكُم فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ

“Bulan adalah 29 (hari) maka janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka sehingga kalian melihatnya kecuali jika kalian tertutupi awan, maka jika tertutupi awan maka tentukanlah.” (Shahih, HR. Muslim no. 2501)
Mereka mengatakan kalimat ‘tentukanlah’ maksudnya adalah menentukan dengan hisab tempat-tempat bulan.
Pendalilan mereka dengan hadits Ibnu ‘Umar ini sangat rusak karena Ibnu ‘Umar sendiri yang meriwayatkan hadits: “Kita adalah umat yang ummi tidak menulis dan tidak menghitung” (dengan makna seperti yang telah dijelaskan -red). Bagaimana mungkin kemudian hadits beliau dipahami mewajibkan mengamalkan ilmu hisab? (Majmu’ Fatawa, 25/182)
Makna yang benar adalah tentukanlah jumlah bulan maka sempurnakanlah jumlah Sya’ban menjadi 30. (Al-Mishbahul Munir, hal. 492)
Akan lebih jelas lagi dengan riwayat lain yang menjelaskan maksud kata
فَاقْدِرُوا لَهُ
(maka tentukanlah) yang terdapat dalam riwayat Muslim dari ‘Ubaidillah bin ‘Umar dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar g dari Nabi SAW dengan lafadz:

فَاقْدِرُوا ثَلاَثِيْنَ

“Maka tentukanlah menjadi 30.”

Dalam riwayat Asy-Syafi’i dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu ‘Umar dengan lafadz:

فَأَكْمِلُوا الْعِدَِّةَ ثَلاَثِيْنَ

“Sempurnakanlah jumlah menjadi 30.”
Juga dalam riwayat Al-Bukhari dari Al-Qa’nabi dari Malik dari ‘Abdullah bin Dinar dari Ibnu ‘Umar dengan lafadz yang sama. Yang lebih jelas lagi dalam riwayat Al-Bukhari dari Abu Hurairah:

فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Maka sempurnakanlah jumlah Sya’ban menjadi 30.” (lihat Nuzhatun-nadzhar bersama An-Nukat, hal. 100-102. Fathul Bari, 4/121)
Maksud dari kata (maka tentukanlah) begitu gamblang, yaitu menyempurnakan jumlah bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari sebagaimana penjelasan di atas. Bukan maknanya memperkirakan dengan ilmu hisab atau falak.
Wallahu a’lam.

1 Ibnu Hajar t berkata: “Yang dimaksud adalah menghisab bintang-bintang dan perjalanannya….. Bahkan yang nampak dari konteks tersebut menafikan pengaitan hukum dengan ilmu hisab sama sekali. Menjelaskan yang demikian sabda Nabi SAW jika kalian tertutupi awan sempurnakanlah menjadi 30. Beliau tidak mengatakan bertanyalah kepada ahli-ahli hisab… Seandainya perkara ini dikaitkan dengan ilmu hisab maka akan menyempitkan masalah ini. Karena tidak ada yang mengetahuinya kecuali sedikit.” (Fathul Bari 4/127)

sumber : http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=294

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.