Sekretariat Pengurus Besar Al Washliyah

Sekretariat Pengurus Besar Al Washliyah.
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.41 Cempaka Putih, Jakarta pusat 10510.
Telp./Fax. 021 – 42600624, Website : http://www.kabarwashliyah.com

Advertisements

Peletakan Batu Pertama Pendirian Kantor PB Al Washliyah

TANGIS haru dan bahagia menghiasai acara peletakan batu pertama pendirian Kantor PB Al Washliyah pada tanggal 30 Nopember 2013 di pertapakan tanah milik Al Washliyah yang belum lama dimiliki oleh Al Washliyah, di lokasi strategis, Jalan Jenderal Ahmad Yani No. 41 Rawasari, Jakarta Pusat.

Peletakan batu pertama dimulai dari tokoh senior Al Washliyah Drs. H. Anas Tanjung yang datang dari Medan, disusul mewakili ketua PB Al Washliyah Drs. H. Lukman Hakim Hasibuan, Drs. H. Aris Banaji yang ikut mencari lokasi pertapakannya, diikuti sederetan tokoh lainnya termasuk ketua umum PB Al Washliyah.

Peletakan batu pertama.

Peletakan batu pertama

Hampir semua yang hadir Ikut larut dalam suasana haru dan gembira dengan mata berkaca-kaca saat bersama-sama meletakkan batu pertama pendirian kantor PB Al Washliyah. Demikian kata Ketua Umum PB AL Washliyah DR. H.Yusnar Yusuf Rangkuti pada kesempatan silaturahim dalam komunikasi percakapan jarak jauh saya dalam rangka mengucapkan selamat HUT ke-83 Al Washliyah pada tahun 2013.

Mengapa demikian?, Cita-cita berdirinya kantor PB Al Washliyah itu memiliki sejarah panjang yang bermacam-macam jalan ceritanya. Cita-cita baru terujud setelah 28 tahun Sekretariat PB. Al Washliyah pindah dari Medan ibukota Propinsi Sumatera Utara pada April, tahun 1986 ke Jakarta, IbuKota Indonesia.

Berbagai usaha sudah dilakukan oleh para aktifis pencinta dan pendukung Al Washliyah, beberapa kali panitia dibentuk, tapi semua tidak membuahkan hasil yang nyata. Baru setelah Dilaksanakannya muktamar Al Washliyah ke 20 tahun 2010 di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta tahun 2010, dengan terpilihnya Alm DR. H.Muslim Nasution sebagai ketua umum yang mendapat dukungan luas oleh peserta Muktamar yang berlangsung sejuk dan damai.

Dalam janjinya dengan PW Al Washliyah DKI sebelum Alm Muslim Nasution diusung sebagai calon ketua umum, beliau bertekad menjadikan tugas utamanya sebagai ketua umum jika terpilih akan mendirikan gedung kantor PB Al Washliyah yang sudah menjadi cita-cita bersama semua warga Al Washliyah.

Sejak terpilihnya jadi ketua, alm Muslim Nasution fokus mulai melakukan kerja keras untuk mendirikan gedung PB. Al Washliyah dimulai dengan mencari tanah pertapakan diberbagai lokasi di DKI Jakarta didampingi oleh Aris Banadji. Memang beliau memimpin organisasi Al Washliyah tidak sampai pada akhir jabatannya, namun cita-cita utamanya mendirikan kantor PB. Al Washliyah sebelum beliau menghembuskan nafas yang terakhir telah berhasil menjadi kenyataan dengan didapatkannya tanah pertapakan untuk kantor tersebut.

Untuk mematrikan momori/kenangan sejarah untuk Almarhum Muslim Nasution, jika tidak ada pertimbangan lain, kiranya dapat dipertimbangkan untuk memberi nama gedung kantor Pengurus Besar Al Washliyah dengan nama Gedung DR.Muslim Nasution.
Jasa Almarhum termasuk orang-orang yang berjuang dan ikut dalam mengusahakan dan mendanai pendirian gedung PB. Al Washliyah ini beserta orang orang yang hadir dalam acara bersejarah peletakan batu pertama ini akan dikenang selamanya dan patut dicatat dalam perjalanan sejarah seratus tahun Al Washliyah.

Mari kita doakan Almarhum dengan membacakan Al Fatiha, semoga Amal ikhlasnya mencari sampai mendapatkan tanah pertapakan gedung Al Washliyah yang akan didirikan ini di lokasi yang cukup strategis, mendapat ridho dari Allah SWT. Al Fatiha.

Lama warga Al Washliyah menanti kebangkitan Al Washliyah dengan semangat baru dan dengan kualitas SDM yang siap tampil di depan publik. Ulang tahun ke 83 tanggal 30 Nopember 2013 kiranya dapat dijadikan momentum untuk menandai kebangkitan Al Washliyah menjelang usianya mencapai seratus tahun dengan diletakkannya batu pertama pendirian gedung Kantor Pusat Pengurus Besar Al Washliyah.

Acara peletakan batu pertama ini diawali sehari sebelumnya dengan acara tazkirah memperingati HUT ke-83 Al Washliyah di tanah pertapakan yang akan didirikan kantor PB. Al Washiyah. Menurut Ketua Umum PB Al Washliyah Dr. Yusnar Yusuf Rangkuti, acara dipadati oleh pengunjung di luar dugaan sampai panitia memasang tenda. Acara dihadiri sekitar 350 orang undangan terdiri dari keluarga besar Al Washliyah.

Undangan datang dari berbagai Propinsi seperti dari Aceh, Sumut, Keppri, Banten dan Jawa Barat, selebihnya sekitar 40% dari Propinsi DKI. Subhanallah, mereka datang dari jauh maupun dekat pada umumnya dengan ongkos yang diusahakan sendiri. Ini menunjukkan betapa besar rasa cinta mereka kepada Al Washliyah.

Saya juga ikut bersyukur, walaupun berada di Negara yang jauh dari Indonesia, namun dapat berkesempatan hadir pada pertemuan resmi yang terakhir antara pengurus PB Al Washliyah dengan Konsultan pembangunan gedung PB Al Washliyah di Kantor PB Al Washliyah pada awal Nopember 2013 untuk penentuan persetujuan bentuk gedung yang akan dibangun.

Gedung yang direncananya akan dibangun empat lantai tersebut telah memiliki dana awal untuk pembangunannya yang berasal dari berbagai sumber termasuk pribadi. Dari Perguruan Tinggi Al Washliyah telah berkomitmen akan menyumbang beberapa miliar rupiah untuk membangun gedung yang memiliki tanah seluas beberapa meter tersebut.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum PB. Al Washliyah, dalam menjawab pernyataan beberapa orang tokoh Al Washliyah yang masih pesimis mempertanyakan mengapa Al Washliyah cuma begini-begini saja, beliau mengatakan antara lain bahwa; “kita jangan jumud, jangan pesimis, kita harus selalu optimis, setelah berdiri gedung Al Washliyah ini, kita akan bergerak terus mendirikan rumah sakit dan Perguruan Tinggi Al Washiyah di Ibukota Jakarta, Insya Allah”, katanya meyakinkan.

Menurut Ketua Umum PB. Al Washliyah, PW Al Washliyah Jawa Barat saat ini telah mendapat dukungan Pemprov Jawa Barat untuk aktifitas organisasi, tentu ini perlu disusul oleh Pengurus PW Al Washliyah di propinsi lain yang harus berjuang untuk mendapatkan dukungan dana dari pemda masing-masing. Jika dukungan dana dasar ini diperoleh ditambah dari sumber dana lainnya, maka Al Washliyah di seluruh propinsi di Indonesia akan dapat menghidupkan aktifitasnya dengan lebih baik.

Dirgahayu Al Washliyah,

Wassalam.
Penulis. Abdul Mun’im, SH.MH.

Pendaftaran Mahasiswa Baru TA 2013

pmb_2013Pendaftaran Mahasiswa Baru UNIVA Labuhanbatu

Daftar Disini

Kontak : 0823 69 888200

Mendirikan Da`i Centre Al Washliyah

TULISAN ini dibuat untuk menyongsong acara silaturahim Da’i Al Washliyah yang akan diadakan dalam waktu dekat, sekedar memberikan sumbang saran secara terbuka agar dapat diketahui secara umum oleh warga Al Washliyah yang diharapkan dapat memberikan dukungannya.

Sudah waktunya Al Washliyah sebagai organisasi dakwah melakukan dakwah lebih professional, di antaranya memiliki “Da’i Centre” di seluruh Indonesia, minimal di setiap daerah tingkat dua, kabupaten atau kotamadya,  yang aktif Al Washliyahnya.

Da’i Centre itu suatu kebutuhan yang mendesak dalam suasana dakwah saat ini, sangat diperlukan sebagai markas yang memiliki alamat tetap dan nomor telepon atau internet yang dapat dihubungi setiap saat, tempat pertemuan dan berkumpulnya Da’i Al Washliyah, sekaligus tempat masyarakat untuk mencari da’i yang mereka perlukan dalam mengisi acara-acara keagamaan.

Pendirian Da’i Centre ini tentunya memerlukan dukungan dana dari berbagai pihak, baik dari Al Washliyah dan organ-organnya maupun dari pemerintah setempat.  Jika tahap pertama belum dapat membangun sendiri, untuk sementara dalam program jangka pendek dapat menyewa satu tempat yang ukurannya sedang atau bersatu dengan kantor organisasi Al Washliyah di daerah masing-masing. Dengan demikian diharapkan kegiatan Dakwah Al Washliyah akan dapat ditangani lebih serius dan lebih professional.

KEBUTUHAN DA’I

Kalangan da’i, memerlukan sekali tempat berkumpul, untuk membuat suasana gembira dan memiliki basis kekuatan para Da’i untuk menyebar syiar Islam. Tempat itu dapat digunakan sebagai pusat beroperasinya kegiatan da’wah Al Washliyah dan tempat berdiskusi tentang kegiatan da’wah yang dilakukan sehari-hari waktu demi waktu.

Da’i perlu memiliki suatu tempat untuk mengatur strategi, administrasi dan manajemen da’wah serta membangun SDM para Da’i. Tempat itu sangat berguna untuk  mendiskusikan tentang apa saja materi ceramah/khutbah yang perlu disampaikan sesuai dengan keharusan dan kebutuhan serta momentum yang terjadi di masyarakat. Tempat untuk  mendiskusikan  metode apa yang baik untuk digunakan dan bagaimana hasil pemantauan tentang suasana umat Islam di lapangan sebagai reaksi atau hasil dari da’wah yang sudah disampaikan.

Di Da’i Centre itu  dapat dibahas tentang daerah dakwah mana yang sudah terjangkau oleh dakwah dan daerah mana yang belum. Dimana kekuatan dan kelemahan masyarakat dalam melaksanakan dakwah Islam. Di tempat itu juga dapat dibahas tentang kesejahteraan kehidupan para Da’i.

KEBUTUHAN MASYARAKAT

Sering kali didapati masyarakat kesulitan untuk mencari Da’i,  terutama pada waktu-waktu tertentu seperti waktu Solat Jumat, untuk mendapatkan khotib yang diperlukan terus menerus setiap seminggu sekali dan kebutuhan  untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha setiap tahun serta untuk mengisi pengajian dan peringatan hari-hari besar Islam.

Kebutuhan akan Da’i selain Da’i utama juga perlu Da’i cadangan. Jika sewaktu-waktu Da’i utamanya tiba-tiba berhalangan datang pada waktunya sebab sakit, kecelakaan, macet total, dan masalah-masalah darurat lainnya, maka Da’i penggantinya pada waktunya harus sudah ada. Hal ini perlu  untuk menghilangkan rasa cemas para pengurus masjid atau panitia. Jika acara sudah siap-siap untuk dilaksanakan dan jamaah sudah berkumpul, tapi pembicara atau khotib tidak ada, maka hal ini sangat berbahaya terhadap pengurus atau panitia karena jamaah bisa bubar jika tidak satupun diantara jamaah yang bisa tampil menggantikan.

Pada waktu-waktu tertentu masyarakat selalu bingung jika memerlukan Da’i kemana mencarinya?. Bagi yang sudah rutin mengundang Da’i biasanya mereka sudah punya Da’i langganan. Jika ada Da’i Center Al Washliyah ada seperti yang sudah dimiliki oleh beberapa kelompok Da’i lainnya dan tempat itu dikenal secara umum oleh masyarakat, maka  hal itu akan dapat membantu memudahkan umat Islam di tempat itu  untuk dapat memenuhi kebutuhannya disaat-saat mereka memerlukan Da’i.

PUSAT KEGIATAN MENCETAK KADER DA’I

Da’i Centre diperlukan untuk mencetak para Da’i muda sebagai generasi penerus untuk menambah jumlah Da’i maupun yang akan menggantikan posisi Da’i senior agar jumlahnya menjadi lebih banyak. Tempat itu juga dapat dipakai untuk membangun kualitas SDM para Da’i yang ada agar dapat menyampaikan da’wah dengan bijaksana dan dengan cara yang lebih simpati serta berkualitas.

Da’i Centre dapat  berfungsi untuk tempat mengenalkan kepada para Da’i alat alat Informasi Teknologi yang dapat membantu para Da’i lebih memudahkan dalam berda’wah, maka Center ini dapat menyiapkan sarana komunikasi dan media sosial sebagai alat da’wah masa kini yang diantaranya mungkin belum  dimiliki oleh pada Da’i secara merata. Da’i Center juga dapat digunakan untuk tempat latihan para Da’i jika akan tampil didepan layar televisi atau untuk wawancara.

PERPUSTAKAAN UNTUK REFERENSI
Da’i Centre dapat digunakan sebagai perpustakaan tempat menyimpan buku-buku sebagai rujukan ceramah para Da’i dan untuk membantu memberikan bahan referensi bagi para Da’i yang rajin menulis dsb.  Masih banyak lagi pemanfaatan tempat ini, jika dapat disediakan bagi pada Da’i Al Washliyah yang membuat mereka akan semakin baik dan maju. Dengan adanya Da’i Centre, kegiatan-kegiatan da’wah Islam diharapkan akan semakin bervariasi penampilannya dan semakin berkembang.

H. Abdul Mun’im Ritonga, SH.MH
Penulis Adalah seorang anggota Da’i Al Washliyah DKI Jakarta – See more at: http://kabarwashliyah.com/2013/04/28/mendirikan-dai-centre-al-washliyah

ALJAM’IYATUL WASHLIYAH DAN PENDIDIKAN

Sejak berdirinya oragnisasi Al Jam’iayatul Washliyah di Kabupaten Labuhanbatu mulai tahun 1950 dengan amal usahanya : da’wah, amal sosial dan pendidikan. Secara nyata Al Washliyah telah mendirikan madrasah mulai dari Raudhatul Athfal, Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah dan juga sekolah umum mulai dari SD, SMP, dan SMK yang tersebar di seluruh desa yang ada di Kabupaten Labuhanbatu. Usaha tersebut dilakukan oleh para pejuang Al Washliyah Labuhanbatu, diantaranya ada yang telah berpulang ke Rahmatullah antara lain : Buya H. Muahmmad Damsyeh (wafat 6 April 2005), Buya H. ABD. Rahim Ja’far (wafat 27 Oktober 1994), Buya Hamzah Harahap (wafat Pebruari 2002), Buya H. MHD. Hasan Basri (wafat 19 Mei 2002), Buya H. Bahroem Dalimunthe (wafat 7 Juni 2008).

Pada tahun 1961 Al Jam’iyatul Washliyah Labuhanbatu berusaha merintis perguruan tinggi di Rantauprapat dengan mendirikan Fakultas Syariah kerjasama dengan Universitas Al Washliyah (UNIVA) Medan dan berjalan hanya beberapa tahun saja. Dan pada tahun 1985 mencoba kerjasama dengan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) namun bertahan hanya satu tahun.

Menyadari keberadaan yang kurang menguntungkan itu apalagi ditinjau dari sudut pandang peningkatan sumberdaya manusia yang berkualitas dan pembinaan moral serta ilmu pengetahuan, maka Pimpinan Daerah Kabupaten Labuhanbatu (H. Ali Amran Zakaria, Ketua Umum) dalam rapatnya tanggal 21 Mei 1991 disepakati bersama untuk kembali melakukan tekad yang bulat mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam dengan kerjasama Fakultas Tarbiyah Universitas Al Washliyah (FT-UNIVA) medan dengan jumlah mahasiswa pertama 32 orang dan sarana perkuliahan menumpang di Perguruan Al Washliyah Jl. Siringo-ringo No: 16 Rantauprapat dengan tenaga dosen seluruhnya dari UNIVA Medan.

Tahun akademi 1992/1993 Al hamdulillah Izin Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al Washliyah Rantauprapat telah diterbitkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia, sejak saat itulah secara resmi berdirinya pertama kali Perguruan Tinggi Al Washliyah di Labuhanbatu. Untuk pengembangan perguruan tinggi selanjutnya STIT berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Washliyah Labuhanbatu dan pada tanggal 31 Juli 2008 berdirilah Universitas Al Washliyah (UNIVA) Labuhanbatu, sehingga jumlah Program Studi yang di asuh oleh Al Washliyah Labuhanbatu menjadi 8 Prodi, yaitu Pendidikan Agama Islam (S1), Komunikasi Penyiaran Islam (S1), Manajemen (S1), Teknik Informatika (S1), Pend. Matematika (S1), Pend. Biologi (S1), Pend. Bahasa Inggeris (S1), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (S1). Prodi Pend. Agama Islam telah terakreditasi BAN-PT,  dan prodi lainnya pada tahun 2010 telah diperpanjang oleh Dirjen Pendidkkan Tinggi sampai dengan tahun 2014.

Namus disadari sarana yang ada masih terus diupayakan untuk dikembangkan namun karena keterbatasan maka penambahan fasilitas perkuliahan masih terasa lambat, oleh karena itu mohon doa akan Univa Labuhanbatu di beri kekuatan untuk mampu berbenah diri dalam upaya mensejajarkan diri dengan universitas lainnya, Amiin. (Bukhari Is).

Sejarah Ikatan Putera Puteri Al Washliyah

Sebelum bernama Ikatan Putera Puteri Al Washliyah (IPA), awalnya organisasi yang menaungi para pelajar Al Washliyah yang lahir dari rahim Kongres ke IX Al Washliyah di Medan tahun 1953, dikenal dengan nama Ikatan Pelajar Al Washliyah Putera (IPA Putera) dan Ikatan Pelajar Al Washliyah Puteri (IPA Puteri) yang mempunyai pucuk pimpinan sendiri-sendiri. IPA Putera di bawah pengawasan Gerakan Pemuda Al Washliyah (GPA) dan IPA Puteri di bawah pengawasan Angkatan Puteri Al Washliyah.

Perubahan nama sesungguhnya tidak menjadi keinginan para kader organisasi yang hadir sebagai peserta pada Muktamar Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) Ke IX, tapi lebih pada situasi dan kondisi yang mengharuskannya. Adalah UU No. 8 tahun 1985 yang akhirnya “memaksa” Muktamar Ikatan Pelajar Al Washliyah (IPA) tahun 1997 di Bandung harus menentukan pilihan antara melakukan pergantian nama atau membubarkan diri.

Cukup lama organisasi ini bertahan demi sebuah harapan untuk tetap kukuh dengan idealismenya, tapi ternyata semua kader harus mengikhlaskan diri untuk melakukan penyesuaian demi keberlangsungan perjuangan dan pengabdian, meskipun hal itu terasa berat.

Itulah sekilas proses pergantian nama organisasi yang menjadi catatan sejarah penting untuk diketahui oleh para kader yang masih terus melakukan pengabdian di IPA ataupun yang sudah menjadi alumni.

Memasuki usia yang ke-56 tahun pada 2009 ini, ada beberapa hal yang harus kita review dan evaluasi kembali, setidaknya ini menjadi bagian dari upaya kita untuk terus memberikan yang terbaik bagi IPA, Al Washliyah, agama, bangsa dan negara.

Kaderisasi

Adalah sebuah keharusan bagi IPA untuk terus melakukan proses kaderisasi. Tidak ada organisasi yang dapat bertahan lama, jika tidak melakukan kaderisasi. Dan IPA sebagai salah satu laboratorium kader Al Washliyah selain Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (HIMMAH) tidak boleh berhenti melakukan hal ini. Sesungguhnya dari kaderisasilah diharapkan lahirnya para pemimpin baru dengan kapasitas, kompetensi dan loyalitas tinggi. IPA hanya akan bisa bertahan bila kader-kaderya selalu tumbuh dan berkembang.

Terkait dengan pola kaderisasi yang sudah dilakukan selama ini, saya melihat diperlukan adanya peningkatan kualitas dalam beberapa hal, terkait materi kaderisasi, kompetensi instruktur (baik akhlaq, ibadah dan pengetahuan) dan aksi tindak lanjut (pasca kaderisasi).

Pola-pola yang selama ini dianggap tidak relevan lagi dengan situasi kekinian, IPA harus berani melakukan perubahan. Hal ini bukan berarti menghilangkan substansi kaderisasi, tapi lebih pada upaya melakukan penyesuaian terhadap dinamisnya perkembangan zaman, agar sebagai organisasi IPA tidak ketinggalan zaman.

Silaturahim Dan Konsolidasi

Struktur organisasi yang sudah terbentuk dari mulai Pimpinan Pusat sampai ke tingkat Pimpinan Ranting dan Pimpinan Rayon (di sekolah/madrasah) harus terus dilakukan pembinaan, pimpinan di atasnya dituntut selalu rajin melakukan konsolidasi dan silaturahim kepada semua jajaran di bawah.

Status kepemimpinan dengan jabatan organisasi yang disandang tidak boleh melahirkan keangkuhan dan keengganan untuk melakukan “turun ke bawah” atau “turba”. Karena hakikatnya program silaturahim dan konsosolidasi inilah yang akan membuka sumbatnya komunikasi dan jalannya program.

Apa yang pernah dilakukan dan menjadi tradisi para alumni di masa lalu, yakni dengan rajin mengunjungi satu sama lain, layak untuk dipertahankan dan diteruskan. Jangan para pengurus IPA hanya mendatangi saat ada kepentingan saja.

Menjaga Independensi

Sejak bergulirnya reformasi, kita dihadapkan pada seringnya pesta politik digelar, baik itu pemilihan umum presiden dan wakil presiden, pemilihan umum legislatif, pemilihan kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) bahkan pemilihan kepala desa, yang seluruhnya dilaksanakan secara langsung.

Peristiwa politik ini disadari atau tidak menimbulkan ekses bagi organisasi baik secara langsung maupun tidak untuk terlibat dalam hal dukung mendukung calon.

Ditambah lagi dengan lahirnya begitu banyak partai politik, dan ini memberikan ruang partisipasi kader yang berkeinginan untuk mengaplikasikan ilmu berorganisasi secara lebih luas di partai politik. Dua hal diatas harus dapat dikelola dengan baik oleh IPA untuk tidak terjebak pada pelanggaran konstitusi organisasi yang menggariskan organisasi tidak berafiliasi kepada partai politik.

Sikap independen adalah pilihan terbaik untuk menjaga organisasi dari intervensi kekuatan sosial politik sekaligus memberikan kesempatan yang sama kepada segenap potensi kader untuk berkiprah dipentas politik secara adil dan tidak berat sebelah. Artinya, IPA membebaskan kadernya untuk menentukan pilihan tanpa mengusung kelembagaan sebagai alat politiknya.

Karena sesungguhnya disitulah letak kekayaan organisasi. Kita melahirkan kader yang militan untuk selanjutnya mendistribusikannya secara tidak langsung kepada pasar politik yang membutuhkannya.

Fakultas Teknik, Prodi Tek.Informatika

CIMG0031

Kelompok Studi Linux F.Teknik