Persimpangan Jalan

Oleh Sugeng Wanto, MA

Sebagai kader yang masih memiliki idealisme dan kemurnian cita-cita membangun bangsa dan agama melalui Al-Washliyah, tentunya sangat prihatin melihat kondisi Al-Washliyah saat sekarang ini. Eksistensi Al-Washliyah semakin tidak jlas bagaikan berada di sebuah “Persimpangan Jalan”.  Ketidak jelasan ini tentunya disebabkan oleh banyaknya kader-kader Al-Washliyah yang tidak lagi memiliki idealisme dan  kemurnian cita-cita menjadi figure central di tubuh organisasi. Kader-kader Al-Washliyah hari ini lebih memfokuskan Al-washliyah sebagai objek “For Sale” padahal Al-Washliyah itu subjek “Not For Sale”.

Tentunya, hal ini lebih menguntungkan pribadi atau kelompok tertentu. Padahal kita ketahui, cita-cita Al-Washliyah sebagaimana cita-cita para pendahulu adalah mengemban misi keummatan (lebih mengedepankan kepentingan umat/limashlahatil ummat). Artinya, bukan mengatasnamakan umat untuk menjual Al-Washliyah tetapi optimalisasi potensi umat melalui Al-Washliyah. Seyogyanya para kader Al-washliyah yang menjadi leader (pemimpin) baik pusat mapun daerah menjadi qudwah alummah (teladan umat) dan tetap di wilayah perjuangan keummatan (Society Centris) bukan malah sebaliknya hanya berada pada wilayah kekuasaan (State Centris) dengan interest-interest (kepentingan-kepentingan) tertentu. Terutama para ulama Al-Washliyah yang merupakan sosok informal leader yang mengakar dan diterima masyarakat luas. Mereka menjadi symbol kekuatan sekaligus penyambung lidah masyarakat dan juga aktor pemberdayaan potensi keummatan. Fungsi mereka sangat mendasar, yaitu sebagai kekuatan pengimbang=mengontrol dan menahan potensi intervensionis dan otoriter negara (Balancing Force) dan kekuatan reflektif = memelihara kohesi sosial dan mengelolah potensi konflik internal masyarakat (Reflective Force). Dengan demikian, misi keummatan Al-Washliyah mampu dioptimalkan. Agar Perahu Al-Washliyah tidak berada dalam kebingungan terhempas gelombang (berjalan tidak tentu arah) maka Nakhoda dan seluruh penghuni kapal harus segera berbenah dan kembali kepada visi keummatan. Menyusun kembali planning dalam memajukan Al-Washliyah ke depan. Kembali Kepada Khittah Al-Washliyah Al-Washliyah adalah salah satu organisasi Islam yang besar dan telah banyak memberikan hal-hal terbaik buat pembangunan bangsa Indonesia. Tidak sedikit, dari lembaga ini terlahir tokoh-tokoh yang kharismatik dan disegani serta telah memberikan sumbangsih pemikiran dan karya nyata.

Di awal berdirinya Al-Washliyah pada tanggal 9 Rajab 1349 H/30 November 1930 M diawali dengan niat perjuangan yang suci untuk mempersatukan umat yang terpecah dan memupuk rasa tanggung jawab (sense of responsibility) terhadap keadaan yang terjadi. Tokoh-tokoh kharismatik seperti Syeikh H. Muhammad Yunus, H. A. Rahman Syihab, H. Ismail Muhammad Banda, H. M. Arsyad Thalib Lubis dan lain-lain merupakan ulama-ulama yang masyhur karena ilmunya, ketauladanannya (qudwah), dan komitmennya untuk memperbaiki moralitas umat dan memajukan bangsa. Perjuangan mereka benar-benar didasarkan kepada cita-cita yang suci bukan karena interest pribadi (individu) atau kelompok tertentu. Akhirnya, mereka berhasil mewujudkan mimpinya.

Ada beberapa point yang bisa kita renungkan untuk menghidupkan kembali ghirah perjuangan Al-Washliyah ke depan. Paling tidak, Al-Washliyah lebih mampu lagi menunjukkan kiprah dan karya nyatanya membenahi moralitas umat dan mengisi pembangunan bangsa ini di berbagai bidang, yang meliputi: pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, keagamaan dan lain-lain. Akhirnya, Al-Washliyah tidak akan lagi berada di persimpangan jalan. Point-point itu merupakan pengejawan tahan dari cita-cita the founding fathers kita, antara lain adalah: Pertama, perjuangan suci. Membangun Al-Washliyah memang harus dengan perjuangan. Dalam setiap perjuangan harus ada pengorbanan. Bersedia berkorban (tenaga, pikiran, materi bahkan jiwa) adalah indikasi kesucian perjuangan. Mengikhlaskan hati semata-mata hanya karena Allah adalah pintu gerbang dalam perjuangan. Ikhlash itu bukanlah endingpasivitas (akhir dari kemandegan) umat Islam. Ikhlash adalah totalitas pengabdian kepada Allah SWT. Konsekuensinya: jalan kemudahan, terbukanya pintu rizki dan indikasi kebahagiaan lainnya. Kedua, jangan suka melupakan sejarah. Hari ini banyak orang yang besar (popular) karena Al-Washliyah, tapi ia sendiri lupa kepada Al-Washliyah yang telah membesarkannya. Ketika seseorang memasuki wilayah politik praktis untuk menjadi eksekutif atau pun legislatif maka ia akan mengatakan bahwa “ia adalah salah satu kader Al-Washliyah untuk mendapatkan dukungan dari keluarga besar Al-Washliyah yang telah tersebar di seluruh penjuru negeri ini”. Namun, setelah ia duduk di kursi yang diidamkan “apa yang sudah diberikan untuk kemajuan Al-Washliyah?”.

Jangankan memberikan bantuan malah “merongrong” dengan mengembangkan sikap otoriter, sewenang-wenang dan lain-lain.Penulis pernah merasakan pengalaman ini secara langsung. Orang-orang seperti ini tidak layak menjadi pengurus Al-Washliyah karena tidak memiliki capabilitas, kredibilitas dan integritas. Sudah seharusnya dilakukan restrukturisasi agar roda Al-Washliyah itu kembali berjalan secara baik. Ketiga, membina moralitas ukhuwah. Paling tidak, ada beberapa langkah yang harus kita tempuh: a) Berangkat dari kepentingan umat (mashlahatul ummat) bukan kepentingan pribadi atau kelompok. Sehingga siapapun yang memimpin organisasi akan disikapi secara lapang dada selagi capabilitas-nya terpenuhi dan sesuai dengan rambu-rambu organisasi; b) Saling bahu membahu (cooperate) antara satu dengan lainnya dengan mengedepankan persamaan dan arif dalam menyikapi perbedaan yang muncul; c) Bersikap terbuka terhadap kritik yang konstruktif; d) Beranjak dari tekad dan tujuan yang sama untuk membangun Al-Washliyah. Keempat, menumbuhkan sense of belonging (rasa memiliki) dan sense of responsibility (rasa tanggung jawab). Bila sudah tertanam rasa memiliki maka akan mewujudkan tanggung jawab. Jikalau kita punya sesuatu maka kita akan menjaga, memeliharanya agar tidak rusak, diganggu dan hal-hal yang mafsadat lainnya. Bila kita merasa memiliki Al-Washliyah maka kita akan memeliharanya. Jangan sampai nama Al-washliyah tercoreng di tengah umat hanya gara-gara kita, memanfaatkan namanya. Seperti pepatah: “karena nila satu titik, rusak susu satu belanga”. Tanggung jawab sebagai kader Al-Washliyah cukup besar. Untuk itu, jangan berkata bahwa kita kader Al-Washliyah kalau tidak bisa menjalankan amanah dan bertanggung jawab terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. Kelima, mewujudkan yang terbaik. Akhirnya, kembali kita harus memotivasi diri dengan “Apa yang sudah saya berikan untuk Al-Washliyah?“. Berbuat dengan karya nyata sesuai dengan bidang masing-masing. Kader Al-Washliyah yang di lembaga eksekutif, legislatif, yudikatif, tenaga profesi: guru/dosen, dokter dan lain-lain harus memberikan yang terbaik dengan menebar kemanfaatan buat umat Islam. Paling tidak, menjadi qudwah (ketauladanan moral) di lingkungan kerja kita masing-masing.  Keenam, warga Al-Washliyah harus satu langkah dalam mengoptimalkan kekuatan ummat Islam demi terwujudnya kemaslahatan ummat Islam itu sendiri. Ke depan, umat Islam harus lebih cerdas, lebih dewasa, lebih tegas, lebih arif dalam menentukan arah kehidupan dan menyikapinya.

Penutup

Mari kita berbenah diri untuk menjadikan Al-Washliyah lebih baik lagi ke depan. Mengembalikannya kepada khittah dasar adalah salah satu solusi mengatasi krisis Al-Washliyah. Sudah saatnya buat kita selaku kader Al-Washliyah selalu memotivasi diri untuk berbuat yang terbaik, bukan malah sebaliknya memanfaatkan Al-Washliyah hanya untuk kepentingan sesaat yang sifatnya individual, sektarian ataupun lokal. Perwujudan kaaffah untuk kemaslahatan umat harus kita galang sejak sekarang.  “Hiduplah Al-Washliyah Zaman Berzaman”. Wallahu a’lamu.

Penulis adalah Anggota Tim Penulisan Tafsir Yayasan Syeik H. Abdul Halim Hasan dan Direktur Pusat Komunikasi Da’I Muda Cendikia (PUSKOMDAMA).

3 Responses

  1. assalamualaikum

    ane anak labuhan batu kampung ane disitu tapi lagi kuliah di USU ustad….. tinggal di aek kanopan…. salam kenal…. ya akh

    semoga blognya tambah keren …. ane masukin ke blogrol ane ya

    assalamualaikum

  2. Tampaknya point ke (2) diatas sudah tidak relevan lagi ustaz. Malahan, saat ini yang terjadi adalah kebalikan dari hal tersebut, dimana ketika seseorang telah berhasil dan sukses menduduki suatu posisi penting, Al-Washliyah dengan tanpa sungkan serta merta mengatakan bahwa beliau adalah kader lama Washliyah, padahal sering terjadi ketika mengalami proses perjalanan kesuksesannya Al-Washliyah sama sekali tidak mempunyai andil.

    Inilah salah satu kelemahan Al-Washliyah yang ada saat ini, tidak ada cetak biru atau grand design kader yang betul-betul paripurna dan utuh Al-Jam’iyatul Washliyah. Hendaknya ada orang-orang pilihan yang direkrut dari berbagai madrasah Al-Washliyah yang ada dan selanjutnya difasilitasi pendidikan yang mempunyai daya saing tinggi dan dibina serta diarahkan fokus dan target prospeknya. Sehingga dengan demikian Al-Washliyah tidak perlu menjual diri kepada seseorang apabila dia telah sukses.

    Sebagai contoh terkini yang paling realitas adalah dengan tidak significan nya massa Al-Washliyah dengan perolehan suara kadernya yang kebetulan menjadi caleg di pileg April 2009 yang lalu.

    Mohon maaf atas komentar saya, ustaz. Mudah-mudahan kita dicerahkan Allah SWT dalam mengembalikan Al-Washliyah ke zaman keemasannya. ” Tak Washliyah hilang dibumi”.

  3. Judul Buku: Ekotoksikologi Teknosfer
    Penulis: Prof. Dr. Ir. Sarwoko Mangkoedihardjo
    Tahun Terbit: 2010
    Harga: Rp. 62.500,-

    Bahan berbahaya dan beracun terdapat di alam sejak terbentuknya bumi. Namun makhluk hidup produsen primer (tumbuhan), konsumen (hewan dan manusia) dan pengurai (mikroba) dapat hidup di bumi bahkan tumbuh berkembang. Bahkan perkembangan manusia meningkatkan keragaman bahan berbahaya dan beracun dan meskipun ada makhluk hidup yang punah namun secara umum kehidupan terus berlanjut. Mengapa makhluk hidup dapat hidup berkelanjutan meskipun lingkungannya terdapat bahan beracun dan berbahaya?.

    Cukup banyak referensi ilmiah memberikan jawabnya melalui berbagai dasar teori dan prakteknya. Namun, buku ini memberikan jawab melalui kajian paparan kinetika zat di lingkungan dan dinamika zat dalam makhluk hidup disertai contoh kuantitatif yang langka. Dengan sengaja, indikator makhluk hidup didestruksi dengan zat berbahaya dan beracun untuk memperoleh batasan takaran zat yang tidak memberikan efek negatif bagi makhluk hidup. Metode destruksi makhluk hidup berikut interpretasi hasil uji toksisitas zat disajikan cukup memadai untuk tujuan tersebut, yang tidak mudah diperoleh dalam satu atau beberapa referensi.

    DAFTAR ISI:

    • Pendahuluan • Landasan Ekotoksikologi • Kerangka Kajian Ekotoksikologi • Kinetika Zat Dalam Ekosistem • Dinamika Zat Dalam Makhluk Hidup • Metode Uji Toksisitas Zat • Metode Analisis Hasil Uji Toksisitas • Batasan Mutu • Teknosfer Industri: Kajian Stimulan Biotoksikologi Produk Campuran Zat • Teknosfer Air Minum: Kajian Stimulan Mikrotoksikologi • Teknosfer Air Limbah: Kajian Stimulan Mesokosmos dan Fitotoksikologi • Teknosfer Sampah: Kajian Stimulan Biotoksikologi Campuran Lindi dan Kompos • Pengelolaan Ekosistem: Kajian Stimulan Ekotoksikologi Laut • Road Map Ekotoksikologi Teknosfer • Tanya Jawa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: